Bermula dari kesepakatan di grup WA Mentoring, akhirnya aku berangkat jogging ke Perumahan Puri Galaxy, salah satu kawasan dengan bangunan perumahan yang megah. Sekitar 06.10 aku sudah di lokasi. ku lihat belum ada siapa-siapa. 20 menit kemudian mentor kami datang dengan sepedanya yang luar biasa bersemangat! Mas Nanda orang pertama yang ku temui. 1 menit berikutnya si ahli karya tulis ilmiah datang. Namanya Misbah, dia juga bersepeda ria. Dan akhirnya yang terakhir datang, si pengusaha muda bernama Irfan. Sedikit berbeda dengan yang lain, si Irfan ini malah bawa motor, padahal kan ceritanya mau olahraga #lapKeringat
Okay, sebenarnya ada lagi seorang kawan yang mau datang, entah kenapa dia nggak muncul-muncul. Padahal bilangnya daritadi udah otw. Menghemat pagi yang hampir siang, kami memutuskan untuk menuju sebuah danau dengan tamannya yang luar biasa sejuk. Dari jauh ku lihat Mas Nanda dan Misbah bersepeda beriringan sambil ngobrol sesuatu yang tidak ku ketahui. Si Irfan berangkat dengan motornya. "Ayo, Mas. Bareng.", dia menawariku tumpangan. "Duluan aja, fan.", jawabku mantap.
Di tengah-tengah aku jogging, rasa lelah mulai menyapa. Merayu agar aku menghentikan langkah cepatku. TAPI ku tolak. Aku terus berlari seolah mengejar mimpi yang kurang selangkah lagi bakal ku dapatkan. "Ichi, ni, san, yon, go, roku, sichi, hachi, kyu, ju", dengan nada setengah teriak ku lantunkan itu. Eits, sebentar. Ada yang tau itu lagu apa?? Yap, betul. Itu bukan lagu woy! Itu hitungan satu sampai sepuluh dalam bahasa Jepang. Ya maklumlah. Dulu aku pernah ikut karate selama 2 tahun sewaktu SMP. Saat lari bareng, hitungan itu memberikan semangat tambahan yang tak mungkin diperoleh tanpa impian yang besar. Dan ternyata benar, saat ku teruskan lariku, ada saat dimana ketika lelah terlewati, maka kaki akan terasa hangat dan lebih ringan untuk melaju lebih kencang. Nggak percaya? Coba deh! ^_^
Sesampainya di taman, aku mengikuti ketiga orang temanku untuk lari-lari kecil memutari jalan taman. Yang tadinya bersepeda dengan Misbah, sekarang Mas Nanda ngobrol sambil jalan dengan si Irfan. Penasaran dengan apa yang mereka obrolkan, akhirnya ku dekati keduanya. Ternyata berita duka. Si Irfan kehilangan laptop dan tabnya. Ada pencuri masuk ke kamarnya dia. Ya Allah, tega-teganya orang itu -_-
Karena tidak ingin mengganggu, ku putuskan untuk lari menjauh. Lebih cepat meskipun rasanya nggak jelas ini aku ngapain. Yang ku tau, aku sedang melatih tubuhku dengan berlari. sip. Sampai juga si capek mengejar langkahku. Berhenti sejenak pun menjadi pilihan. Ada semacam tempat di taman yang bisa kita gunakan untuk bersantai ria. Meja dan kursi pun ada. Tapi aku memilih duduk di atas rumput, di dekat danau bermaksud menggoda ikan-ikan yang lagi asik bercengkerama dengan teman-temannya.
Sesekali burung-burung mendekati permukaan air, mengincar ikan-ikan yang sedang bermain air itu.
Tiba-tiba saja terlintas di benakku, "Ternyata benar bahwa makan tidak butuh uang. Buktinya burung-burung itu. Bayangkan saja jika makan butuh uang, pasti tak akan ada kehidupan seindah pemandangan ini". Entah kata-kata mutiara atau kata-kata penghibur diri, hal itu memberikan pemahaman tersendiri bagiku. Maklum, kondisi bisnis lagi menguji kesabaran. Sampai makan pun ku rogoh uang koin dari tabunganku. Uang kertasnya udah kagak ada. Tapi nggak papa. Kondisi saat ini hanya kondisi sementara yang dapat kita ubah. Kira-kira begitu pesan dari buku "Dijamin Penghasilan 10 juta per bulan, tanpa harus ke kantor, tanpa harus sowan ke dukun".
"Min, ngapain?", tanya si Misbah. "Tuh, ada si Hilmi datang.", lanjutnya. "hahaha, nggak ada apa-apa, coy. Si Hilmi dah datang ya, okelah sip", responku. Setelah kita kumpul semua, alhasil Hilmi cerita kalau dia kesasar di Pakuwon City, salah satu perumahan elit dengan harga rata-rata rumah mencapai 3,8 milyar rupiah. Nggak percaya? Langsung googling aja bos. Nih salah satu blok rumah yang ada disana, Palm Beach ^_^
Mendengar cerita Hilmi, awalnya biasa saja. Tapi, saat rangkaian peristiwa itu terjadi, sepertinya ada hal istimewa dengan temanku yang satu ini. Peristiwa apakah itu? Kenapa Hilmi bisa sampai kesasar ke Pakuwon City? Apa hubungannya Hilmi dengan perumahan elit itu?? Well, kita lanjut ceritanya besok ya. Aku mau ngecek perkembangan pasukan bayanganku, termasuk yang jual tas kemarin. Gold luck for all of you, guys :)

